Archive for the ‘ Info Laboratorium Kesehatan ’ Category

Sjogren’s Syndrome | Tentang Sjogren’s Syndrome | Arti Sjogren’s Syndrome

Image Source : Prodia.co.id
Image Source : Prodia.co.id

Apakah Sjogren’s syndrome?

Sjogren’s syndrome adalah gangguan sistem imun yang ditandai kerusakan kelenjar penghasil cairan oleh sistem imun, yang menyebabkan gejala seperti mata dan mulut kering.

Sjogren’s syndrome merupakan penyakit yang bersifat kronis, yang dapat berkembang menjadi gangguan kompleks dan meluas. Akibatnya dapat mempengaruhi jaringan dan orang lain dalam tubuh, contohnya seni, ginjal dan saluran pencernaan.

Penyebab

Sjogren’s syndrome merupakan gangguan autoimun dimana sistem kekebalan tubuh justru menyerang sel dan jaringan tubuh sendiri. Penyebab dari penyakit sistem imun ini masih belum diketahui secara pasti, namun hasil penelitian mengungkapkan kemungkinan Sjogren’s syndrome dipicu oleh faktor genetik, lingkungan dan hormon.

Gejala

Gejala – gejala yang terjadi bisa bervariasi antar individu, seperti :

– mata kering dan seperti berpasir

– penurunan indera rasa dan penciuman

– batuk kering

– mulut kering dengan kesulitan menelan atau berbicara

– nyeri pada lidah atau tenggorokan

– pembengkakan kelenjar air liur

– kulit kering dan kasar

– kekeringan pada vagina

– mati rasa / kebas atau geli pada tangan atau kaki

– nyeri sendi

– nyeri otot

– kelelahan

Diagnosis

Berbagai pemeriksaan dilakukan untuk membantu diagnosis Sjogren’s syndrome mencakup :

– Pemeriksaan fisik, diantaranya pemeriksaan mata dan mulut

– Pemeriksaan laboratorium, diantaranya: pemeriksaan autoantibodi (meliputi pemeriksaan ANA IF, RF, anti-SSA, antiSSB) dan pemeriksaan laboratorium lain (meliputi pemeriksaan Laju Endap Darah, pemeriksaan darah rutin, pemeriksaan ginjal, pemeriksaan hati, fungsi tiroid, serum protein elektroforesis, analisis urin)

– Pemeriksaan invasif , yakni biopsi kelenjar saliva

Pengobatan

Tidak ada obat untuk menyembuhkan Sjogren’s syndrome. Akan tetapi, jika diagnosis ditegakkan lebih awal, dapat dilakukan penanganan yang tepat sebelum muncul komplikasi yang lebih serius. Konsultasikan dengan dokter ahli untuk mendapat penanganan yang tepat.

Dampak yang ditimbulkan

Hal yang membahayakan, yaitu sebagian besar orang yang terkena Sjogren’s syndrome nampak sangat sehat tanpa adanya komplikasi serius. Namun, jika tidak ada tindak lanjut mereka akan menghadapi peningkatan risiko kesehatan lainnya, di antaranya di dalam dan sekitar mata juga masalah gigi karena penurunan air mata dan saliva dalam jangka waktu lama.

 

Artikel By : Prodia Lab

MANFAAT PEMERIKSAAN FISIK THORAX | Palpasi |Perkusi|Auskultasi |

PEMERIKSAAN FISIK THORAX

DIkutip Dari :http://intansetyanti26.blogspot.com

Pemeriksaan Thorax
  1. memperkenalkan diri pada pasien dan jelaskan tindakan yang akan dilakukan *minta persetujuan pasien
  2. minta pasien melepas baju, perhiasan, dan alat lain yang terbuat dari logam (misalnya, ikat pinggang)
 

Continue reading

EFEK DAN BIOMARKER PAJANAN TIMBAL I Forum Diagnosticum No. 4/2012

Pajanan Timbal

Ilustrasi : Pajanan Timbal

 Manusia tidak terlepas dari ribuan pajanan bahan kimia alami maupun buatan. Bahan – bahan kimia tersebut tersebar di udara, di dalam makanan dan air, di tempat kerja dan produk-produk lainnya, yang dapat menjadi sumber masuknya bahan kimia tersebut ke dalam tubuh manusia. Penilaian berapa banyak bahan kimia yang masuk ke dalam tubuh dapat dilakukan denganbiomonitoring. Berdasarkan pengalaman, pajanan pada hewan, tumbuhan maupun manusia terjadi secara kompleks.

Biomonitoring didefinisikan sebagai kegiatan di lapangan kesehatan masyarakat untuk pengukuran pajanan pada manusia terhadap bahan kimia dari lingkungan melalui pengukuran bahan kimia terkait, metabolit produk-produk reaksinya dari darah, air susu, urin, saliva, adiposa atau jaringan lainnya dari setiap individu (dalam populasi) 

Referensi :

Forum Diagnosticum No. 4/2012

Prodia.co.id

Forum Diagnosticum No. 5/2012 25(OH)D, RESISTENSI INSULIN DAN INFLAMASI PADA PRIA OBESITAS SENTRALForum Diagnosticum No. 5/2012 25(OH)D, RESISTENSI INSULIN DAN INFLAMASI PADA PRIA OBESITAS SENTRAL

 OBESITAS SENTRAL

Gambar Ilustrasi

Obesitas merupakan penyakit metabolik yang terjadi di seluruh dunia dan secara progresif berperan terhadap beberapa penyakit seperti Diabetes Mellitus (DM) tipe 2, hipertensi, dislipidemia dan penyakit kardiovaskular (PKV) (1). Obesitas dikarakterisasi oleh rendahnya regulasi keseimbangan antara asupan energy (konsumsi makanan) dan energi yang dipakai (2). Penelitian yang dilakukan oleh Himpunan Studi Obesitas Indonesia (HISOBI) pada 6000 orang membuktikan bahwa prevalensi obesitas di Indonesia semakin meningkat.

Apabila dibandingkan dengan data pada tahun 1998, angka kejadian obesitas pada pria meningkat hingga mencapai 9,16% (1998 : 2,5%) dan 11,02% pada wanita (1998 : 5,9%) (HISOBI, 2004). Prevalensi nasional obesitas umum (usia >15 tahun) di Indonesia diperkirakan sebesar 19,1% (8,8% overweight dan 10,3% obes) dan prevalensi obesitas sentral sebesar 18,8% (KemenKes, 2010). Prevalensi obesitas nasional di Indonesia lebih besar pada wanita (23,8%) dibanding pria (13,9%) (3).

Pada keadaan obes, jaringan adiposa memproduksi berbagai sitokin dan hormon (adipokin atau adipositokin) yang berpengaruh terhadap perkembangan DM Tipe 2 (T2DM) dan Penyakit Jantung Koroner (PJK), diantaranya adalah adiponektin (4). Adiponektin merupakan adipositokin yang jumlahnya paling melimpah dan ditemukan mengalami penurunan pada kondisi obesitas, T2DM dan PJK.

Kondisi hipoadiponektinemia dihubungkan dengan kolesterol High-Density Lipoprotein (HDL) yang rendah, menurunnya ukuran partikel Low- Density Lipoprotein (LDL) serta meningkatnya penanda inflamasi sistemik seperti High Sensitivity C-Reactive Protein (hs-CRP). Oleh karena itu, konsentrasi adiponektin dapat digunakan sebagai suatu indikator yang penting untuk penyakit metabolik dan inflamasi (5).

Selain sebagai penanda inflamasi sistemik, hs-CRP juga merupakan predictor PKV yang baik. Beberapa studi menunjukkan bahwa terdapat hubungan berbanding terbalik antara CRP dan level messenger RNA (mRNA) adiponektin (6). Akhir–akhir ini, terjadi peningkatan ketertarikan ilmuwan akan peran vitamin D dalam menjaga konsentrasi normal kalsium dan fosfat. Sebagian besar ketertarikan akan peran vitamin D ini didukung oleh data terbaru yang diambil dari National Health and Nutrition Examination Survey (NHANES) bahwa lebih dari 90% penduduk kulit hitam, Hispanik, dan Asia di Amerika Serikat menderita kekurangan vitamin D (25-Hidroksivitamin D (25(OH)D) atau calcidiol < 30 ng/mL) (7).

Prevalensi defisiensi vitamin D di Indonesia yang diteliti oleh Setiati pada tahun 2008 dengan sampel 74 wanita berusia 60-90 tahun bertempat tinggal di Panti Werdha Jakarta dan Bekasi sebesar 31,5% (8). Sedangkan pada penelitian yang dilakukan oleh Green tahun 2008, prevalensi defisiensi vitamin D pada wanita berusia 18-40 tahun di Jakarta sebesar 63% (9). Temuan ini menunjukkan bahwa letak lintang suatu negara yang terkena paparan sinar matahari tidak menjamin di negara tersebut tidak terjadi defisiensi vitamin D. Defisiensi vitamin D pada populasi dewasa diketahui berkontribusi pada perkembangan berbagai penyakit kronis termasuk PKV, hipertensi, DM, beberapa penyakit inflamasi, autoimun dan kanker sehingga sangat bermanfaat untuk menjaga konsentrasi optimal vitamin D (10).

Beberapa penelitian yang berkembang menduga bahwa 25(OH)D selain merupakan indikator status vitamin D, juga memiliki hubungan terbalik dengan peningkatan adiposit, homeostasis glukosa, profil lipid serta tekanan darah mendekati peran klasiknya dalam homeostasis kalsium dan metabolisme tulang. Penelitian yang dilakukan Forouhi (2008)

 

pada subjek kulit putih di U.K menunjukkan adanya hubungan terbalik yang signifikan antara konsentrasi 25(OH)D serum dengan nilai Homeostatic Model Assesment- Insulin Resistance (HOMA-IR) setelah dipantau selama 10 tahun (11). Adanya perubahan homeostasis kalsium dan vitamin D berkaitan dengan resistensi insulin, penurunan fungsi sel beta, sindrom metabolik, intoleransi glukosa dan DM (12). Peran vitamin D pada metabolisme glukosa diantara orangorang yang mengalami intoleransi glukosa  belum jelas mekanismenya dan memerlukan penelitian lebih lanjut (13). Meskipun sudah terdapat beberapa penelitian yang menghubungkan status vitamin D terhadap kejadian resistensi insulin, data penelitian di Asia masih sangat terbatas.

 

Forum Diagnosticum No. 5/2012

PEMERIKSAAN ANTI MULLERIAN HORMONE (AMH)

ANTI MULLERIAN HORMONE (AMH)

ANTI MULLERIAN HORMONE (AMH)

 

 Sampai saat ini strategi yang paling optimum untuk program stimulasi ovarium terkontrol (Controlled Ovarian Stimulation=COS) pada bidang reproduksi berbantu (In Vitro Fertilization=IVF) masih menjadi perdebatan. Pemeriksaan cadangan ovarium merupakan isu penting dalam bidang infertilitas dan IVF. Pemeriksaan cadangan ovarium meliputi penanda serologis dan penanda ultrasonografi (USG) sepertiantral follicle count (AFC) dan volume ovarium. Penanda serologis meliputi follicle stimulating hormone (FSH), estrogen dan inhibin B, tetapi penanda tersebut memiliki keterbatasan dalam memperkirakan respon ovarium karena tergantung siklus menstruasi (2, 3). Perbandingan variabilitias pada inter dan intra siklus menunjukkan bahwa Anti Mullerian

 

Hormone (AMH) lebih baik daripada AFC. Tingginya variabilitas pada AFC disebabkan oleh reproduksibilitas dan standarisasi AFC itu sendiri, variasi intra dan inter observer serta pendeknya waktu ukur folikel, karena folikel terus berkembang sehingga dari waktu ke waktu ukurannya terus berubah. Oleh sebab itu disarankan pengukuran AFC yang dihitung adalah range ukuran 2-10 mm, karena lebih stabil dibandingkan range 2-5 mm (2). Saat ini serum AMH merupakan penanda baru fungsi ovarium yang menjanjikan. AMH termasuk anggota superfamiliTransforming Growth Factor (TGF) β. AMH diekspresikan oleh folikel preantral yang sedang bertumbuh dan sel granulosa pada folikel small antral, sedangkan folikel atretik dan sel theka tidak mengekspresikan AMH (3).

 

MANFAAT PEMERIKSAAN HBsAg KUANTITATIF

Infeksi hepatitis B virus (HBV) kronis adalah “silent disease” dan seringkali tidak  terdiagnosis. Sekitar sepertiga pasien dengan infeksi HBV kronis akan mengalami konsekuensi jangka panjang seperti sirosis, end-stage liver disease, atau kanker hepatoselular (1). Berdasarkan data WHO tahun 2011 diperkirakan bahwa terdapat 100 juta pengidap hepatitis B carrierdengan lebih dari 5,6% dari populasi tersebut hidup di kawasan Asia Tenggara. Lebih dari 300.000 pengidap hepatitis B tersebut meninggal setiap tahun terutama karena efek infeksi hepatitis B kronis seperti sirosis dan kanker hepatoselular (2). Infeksi HBV kronis merupakan kondisi dinamis yang dipengaruhi oleh interaksi antara virus, hepatosit dan sistem imun host. Perjalanan infeksi HBV kronis dapat dibagi menjadi beberapa fase yaitu fase immune tolerant, fase immune clearance, faseimmune control dan fase immune escape (3). Pemeriksaan laboratorium penting dilakukan untuk mengetahui fase infeksi hepatitis B. Dengan mengetahui fase infeksi, maka dapat ditentukan waktu yang tepat kapan dimulainya terapi sehingga tujuan akhir terapi dapat tercapai. Terapi dianjurkan untuk diberikan pada pasien HBV kronis yang berada pada fase immune clearance and fase reaktivasi yang ditandai dengan peningkatan HBV DNA dan ALT, atau terlihat melalui hasil biopsi (3).

 

Sumber : Prodia.co.id

Prediabetes I Gejala Prediabetes

Prediabetes adalah suatu kondisi dimana kadar gula darah (glukosa) lebih tinggi dari nilai normal, tetapi belum cukup tinggi untuk masuk ke dalam kategori diabetes. Kondisi prediabetes yang terus berkelanjutan tanpa penanganan yang memadai dapat berkembang menjadi diabetes tipe 2.

 

Apa penyebabnya ?

prediabetes

prediabetes

Penyebab pasti pradiabetes belum diketahui, meskipun para peneliti telah menemukan beberapa gen yang terkait dengan resistensi insulin. Kelebihan lemak, terutama lemak perut, dan aktivitas juga tampaknya menjadi faktor penting dalam perkembangan pradiabetes.

 

Pada prediabetes, tubuh menjadi resisten terhadap kerja insulin dan tidak mampu “membersihkan” atau mengambil gula dari aliran darah seperti yang seharusnya. Akibatnya, kadar gula darah menjadi lebih tinggi dari nilai normalnya dan jika berlangsung lama maka risiko terjadinya penyakit jantung dan stroke meningkat.

 

 

Apa gejalanya ?

Seringkali prediabetes tidak menunjukkan gejala, namun warna gelap pada area kulit di beberapa bagian tubuh seperti leher, ketiak, siku, lutut, dan buku-buku jari dapat menjadi gejala seseorang memiliki risiko diabetes. Beberapa gejala lain yang merupakan gejala klasik diabetes tipe 2 meliputi:

– Sering merasa haus

– Sering  buang air kecil

– Kelelahan

– Penglihatan kabur

 

Bagaimana cara mendiagnosisnya ?

 

Untuk memastikan seseorang terkena prediabetes adalah melalui pemeriksaan :

– Gula darah puasa

– Gula darah 2 jam setelah makan

– HbA1c

 

 

Bagaimana pengobatannya ?

 

Gaya hidup sehat seperti pola makan sehat dan memperbanyak aktivitas fisik dapat menurunkan kadar gula darah pada kondisi prediabetes. Obat diabetes biasaya diberikan dokter jika kondisi prediabetes terus memburuk dan penyandang prediabetes berisiko tinggi diabetes.

 

 

Bagaimana pencegahannya ?

 

Prediabetes maupun diabetes tipe 2 serta segala komplikasinya dapat dicegah dengan menerapkan pola hidup sehat, yakni :

– Menurunkan berat badan (bagi mereka yang kegemukan) sebesar 5-10% (± 5 kg untuk individu dengan berat badan 90 kg)

– Mengonsumsi makanan sehat dan seimbang

– Melakukan latihan fisik intensitas sedang selama 30-60 menit per hari atau sekurang-kurangnya 4 hari dalam seminggu

– Pemeriksaan laboratorium dan konsultasi dokter secara berkala

 

 

Apa saja dampak buruknya ?

 

Prediabetes yang tidak tertangani dengan baik dapat berkembang menjadi diabetes tipe 2 dan meningkatkan risiko komplikasi berikut:

– Tekanan darah tinggi

– Kolesterol tinggi

– Penyakit Jantung

– Stroke

– Penyakit Ginjal

– Kebutaan

– Amputasi

 

Sumber : Prodia.co.id

Hipotiroid I Gejala Hipotiroid

 

Hipotiroid

Hipotiroid

Prodia.co.idHipotiroid adalah suatu kondisi di mana kelenjar tiroid tidak memproduksi hormon tiroid dalam jumlah yang cukup. Pada orang dewasa, hormon tiroid sangat dibutuhkan dalam metabolisme tubuh. Apabila hipotiroid tidak tertangani dengan baik dapat menyebabkan sejumlah masalah kesehatan seperti obesitas, nyeri sendi, infertilitas, dan penyakit jantung.

 

 

 

 

Apa penyebabnya ?

 

Hipotiroid dapat disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya:

 

– Penyakit autoimun

 

– Pengobatan hipertiroid

 

– Operasi pada kelenjar tiroid

 

– Terapi radiasi

 

Hipotiroid juga dapat terjadi karena penyakit bawaan, atau pada kondisi tertentu seperti gangguan hipofisis, kehamilan, dan kekurangan yodium.

 

 

 

Apa gejalanya ?

 

Gejala hipotiroid bervariasi, bergantung pada tingkat kekurangan hormon dan pada awalnya hampir tidak menunjukkan gejala. Gejala yang mungkin muncul, antara lain:

 

– Kelelahan

 

– Peningkatan sensitivitas terhadap dingin

 

– Sembelit

 

– Kulit kering

 

– Peningkatan berat badan

 

– Suara serak

 

– Kelemahan otot

 

– Peningkatan kadar kolesterol darah

 

– Nyeri, kekakuan dan pembengkakan pada sendi

 

– Periode menstruasi tidak teratir

 

– Penipisan rambut

 

– Denyut jantung lambat

 

– Gangguan memori

 

– Depresi

 

 

 

 

 

Bagaimana cara mendiagnosisnya ?

 

Selain dari pemeriksaan fisik dokter, untuk mendiagnosis hipotiroid diperlukan pemeriksaan darah untuk mengukur kadar TSH (thyroid stimulating hormone).

 

 

 

Bagaimana pengobatannya ?

 

Penanganan yang biasanya dilakukan pada pasien hipotiroid adalah dengan pemberian obat untuk meningkatkan hormon tiroid dan menghilangkan gejala hipotiroid.

 

 

 

 

Apa saja dampak buruknya ?

 

Hipotiroid yang tidak tertangani dengan baik dapat menyebabkan masalah kesehatan seperti :

 

– Gondok

 

– Gangguan jantung

 

– Gangguan kesehatan mental

 

– Kerusakan saraf perifer

 

– Myxedema

 

– Infertilitas

 

– Bayi lahir cacat

 

%d bloggers like this: