Archive for May, 2012

Perencanaan SDM Laboratorium Kesehatan

Sumber daya laboratorium kesehatan secara garis besar dibedakan menjadi dua macam, yaitu: sumber daya manusia (human resources) dan sumber daya non-manusia (non-human resources). Sumber daya manusia (SDM) merupakan potensi manusiawi yang melekat keberadaannya pada seorang pegawai yang terdiri atas potensi fisik dan potensi non-fisik. Potensi fisik adalah kemampuan fisik yang terakumulasi pada seorang pegawai, sedangkan potensi non-fisik adalah kemampuan seorang pegawai yang terakumulasi baik dari latar belakang pengetahuan, inteligensia, keterampilan, human relations.[1] Sedangkan sumber daya non-manusia merupakan sarana atau perlatan berupa mesin-mesin atau alat-alat non mesin dan bahan-bahan yang digunakan dalam proses pelayanan laboratorium klinik.

SDM yang bekerja di dalam pelayanan laboratorium kesehatan cukup beragam, baik profesi maupun tingkat pendidikannya. Kebutuhan jumlah pegawai antara laboratorium kesehatan di Rumah Sakit dengan laboratorium kesehatan swasta, atau Puskesmas tentu tidak sama. Hal ini dikarenakan jenis pelayanan, jumlah pemakai jasa, dan permasalahan yang dihadapi oleh masing-masing laboratorium tersebut berbeda-beda. Jenis ketenagaan yang diperlukan dalam pelayanan laboratorium kesehatan adalah sebagai berikut [2,3] :

  1. Staf medis
    • Dokter Spesialis Patologi Klinik,
    • Dokter Spesialis Patologi Anatomik,
    • Dokter Spesialis Forensik,
    • Dokter Spesialis Mikrobiologi Klinik,
    • Dokter umum yang telah memiliki pengalaman teknis laboratorium
  2. Tenaga teknis laboratorium
    • Analis Kesehatan atau Analis Medis,
    • Perawat Kesehatan,
    • Dokter umum,
    • Sarjana kedokteran,
    • Sarjana farmasi,
    • Sarjana biologi,
    • Sarjana teknik elektromedik,
    • Sarjana teknik kesehatan lingkungan
  3. Tenaga administrasi
  4. Pekarya

Kalau dilihat dari fungsi laboratorium kesehatan, yakni melakukan pemeriksaan bahan yang berasal dari manusia atau bahan bukan dari manusia yang tujuannya adalah menentukan jenis penyakit, penyebab penyakit, kondisi kesehatan dan faktor yang berpengaruh pada kesehatan perorangan atau masyarakat [3], maka kebutuhan SDM yang terbesar adalah Analis Kesehatan sebagai tenaga teknis laboratorium.

Analis Kesehatan memiliki tanggung jawab, wewenang dan hak secara penuh dalam melaksanakan pelayanan laboratorium. Pelayanan laboratorium yang dimaksud adalah pelayanan laboratorium secara menyeluruh meliputi salah satu atau lebih bidang pelayanan, meliputi bidang hematologi, kimia klinik, imunoserologi, mikrobiologi, toksikologi, kimia lingkungan, patologi anatomi (histopatologi, sitopatologi, histokimia, imuno patologi, patologi molekuler), biologi dan fisika.[4]

 

Other Post:

Aspek Mutu Dalam Perencanaan SDM Laboratorium Kesehatan

Perlu disadari bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan dan kesejahteraan masyarakat, tuntutan akan pelayanan kesehatan yang bermutu pun semakin meningkat. Sejalan dengan itu maka pelayanan diagnostik yang diselenggarakan oleh laboratorium kesehatan sangat perlu untuk menerapkan sebuah standar mutu untuk menjamin kualitas pelayanan yang diberikan kepada masyarakat.

Salah satu standar mutu pelayanan laboratorium klinik Rumah Sakit adalah tersedianya SDM dengan jumlah yang cukup dan memenuhi kualifikasi tenaga sesuai dengan jenis pelayanan laboratorium klinik yang ada.

Berkaitan dengan mutu pelayanan laboratorium kesehatan, ada 3 variabel yang dapat digunakan untuk mengukur mutu [5], yaitu :

  1. Input (struktur), ialah segala sumber daya yang diperlukan untuk melakukan pelayanan laboratorium kesehatan, seperti SDM, dana, fasilitas, peralatan, bahan, teknologi, organisasi, informasi dan lain-lain. Pelayanan laboratorium kesehatan yang bermutu memerlukan dukungan input yang bermutu pula. Hubungan input dengan mutu adalah dalam perencanaan dan penggerakan pelaksanaan pelayanan kesehatan.
  2. Proses, ialah interaksi professional antara pemberi layanan dengan konsumen (pasien/ masyarakat). Proses ini merupakan variable penilaian mutu yang penting.
  3. Output/outcome, ialah hasil pelayanan kesehatan, merupakan perubahan yang terjadi pada konsumen (pasien/masyarakat), termasuk kepuasan dari konsumen tersebut.

Untuk meningkatkan mutu pelayanan, laboratorium klinik yang terdapat dalam seluruh Rumah Sakit perlu dikelola dengan menggunakan prinsip-prinsip manajemen yang tepat. Salah satu pendekatan mutu yang digunakan adalah Manajemen Mutu Terpadu (Total Quality Magement, TQM).

Konsep TQM pada mulanya dipelopori oleh W. Edward Deming, seorang doktor di bidang statistik yang diilhami oleh manajemen Jepang yang selalu konsisten terhadap kualitas terhadap produk-produk dan layananannya. TQM adalah suatu pendekatan yang seharusnya dilakukan oleh organisasi masa kini untuk memperbaiki otputnya, menekan biaya produksi serta meningkatkan produksi. Total mempunyai konotasi seluruh sistem, yaitu seluruh proses, seluruh pegawai, termasuk pemakai produk dan jasa juga supplier. Quality berarti karakteristik yang memenuhi kebutuhan pemakai, sedangkan management berarti proses komunikasi vertikal dan horizontal, top-down dan bottom-up, guna mencapai mutu dan produktivitas [1].

Pendekatan Manajemen Mutu Terpadu dalam pelayanan laboratorium adalah menggunakan konsep dari Creech, yaitu suatu pendekatan manajemen yang merupakan suatu sistem yang mempunyai struktur yang mampu menciptakan partisipasi menyeluruh dari seluruh jajaran organisasi dalam merencanakan dan menerapkan proses peningkatan yang berkesinambungan untuk memenuhi bahkan melebihi harapan pelanggan. Terdapat lima pilar Manajemen Mutu Terpadu, yaitu kepemimpinan, proses, organisasi, komitmen, produk dan layanan (service). Manajemen mutu terpadu berfokus pada peningkatan proses. Proses adalah transformasi dari input, dengan menggunakan mesin peralatan, perlengkapan metoda dan SDM untuk menghasilkan produk atau jasa bagi pelanggan [5].

Peningkatan proses yang selanjutnya akan meningkatkan mutu antara lain memerlukan perencanaan kebutuhan SDM yang matang. Perencanaan SDM dapat digunakan sebagai indikator kesesuaian antara supply dan demand bagi sejumlah orang dalam organisasi dengan keterampilan yang sesuai, membantu menilai dan melengkapi rencana-rencana dan keputusan-keputusan manajemen dengan menilai pengaruh-pengaruh daripada tenaga kerja, dan membantu organisasi agar terhindar dari kelangkaan SDM pada saat dibutuhkan maupun kelebihan SDM saat tidak dibutuhkan. [6,7,8]

Komponen kunci dari perencanaan SDM adalah penentuan tipe SDM yang diperlukan. Untuk perencanaan kepegawaian dengan memperkirakan suplai dan permintaan terhadap SDM, selanjutnya menentukan perbedaan atas suplai dan permintaan, apa ada kekurangan atau kelebihan. Selanjutnya dapat ditentukan langkah strategik apa yang akan diambil dalam menghadapi kekurangan atau kelebihan SDM. [9]

Perencanaan SDM bertujuan untuk mencocokkan SDM dengan kebutuhan organisasi yang dinyatakan dalam bentuk aktifitas. Merencanakan kebutuhan SDM berhubungan dengan hal-hal sebagai berikut [10] :
a. mendapatkan dan mempertahankan jumlah dan mutu karyawan
b. mengidentifikasi tuntutan keterampilan dan cara memenuhinya
c. menghadapi kelebihan atau kekurangan karyawan
d. mengembangkan tatanan kerja yang fleksibel
e. meningkatkan pemanfaatan karyawan

Posting Yang Lain:

Analisis dan Klasifikasi Tenaga Laboratorium

Analisis dan klasifikasi pegawai perlu dilakukan dalam merencanakan kebutuhan tenaga laboratorium kesehatan. Analisis pegawai adalah usaha-usaha mempelajari, mengumpulkan informasi serta merumuskan secara jelas mengenai kepegawaian dan batasan kualifikasi minimal pegawai yang dikehendaki untuk melakukan pekerjaan secara tepat guna dan berhasil guna. Sedangkan klasifikasi pegawai adalah tindakan pengelompokan pegawai berdasarkan kesamaan jenis ke dalam suatu kesatuan pegawai.

Analisis pegawai dapat memfokuskan peramalan (forecasting) dan perencanaan (planning) kepegawaian. Informasi analisis pegawai sangat dibutuhkan baik untuk kepentingan restrukturisasi, program perbaikan kualitas, perencanaan human resources, analisis tugas, penarikan pegawai, rotasi pegawai, program training, pengembangan karier, pengukuran performance maupun kompensasi.

 

Posting Yang Lain:

Forecasting SDM Laboratorium Kesehatan

Peramalan kebutuhan SDM merupakan unsur penting dalam perencanaan SDM. Peramalan SDM berusaha untuk menetukan karyawan apa yang diperlukan, baik tuntutan keahlian atau keterampilan tertentu dan berapa jumlah pegawai yang diperlukan. Jadi hal yang diperlukan dalam perencanaan tersebut adalah: jumlah, jenis, mutu.[1]

Hampir semua perusahaan harus membuat prediksi atau peramalan kebutuhan karyawan pada masa yang akan datang, meskipun hal ini tidak tepat benar dengan kenyataan yang sebenarnya. Namun demikian melalui peramalan dapat mendekati kebenaran sehingga diperoleh efisiensi dalam penggunaan SDM. [11]

Analisis kebutuhan organisasi akan SDM dinilai sangat penting karena berfungsi sebagai pusat kegiatan perencanaan SDM; mempengaruhi dan mengarahkan kegiatan, perilaku dan dampak tindakan-tindakan operasional; meningkatkan pendayagunaan SDM secara optimal; mengarahkan perencanaan SDM dalam memperoleh jumlah, tipe dan mutu karyawan untuk mengerjakan sesuatu dengan tepat pada waktu yang tepat. [12]

Perencanaan kebutuhan tenaga laboratorium perlu mempertimbangkan beberapa faktor, seperti :

  • Jenis laboratorium. Apakah laboratorium Rumah Sakit, laboratorium swasta, atau laboratorium kesehatan masyarakat.
  • Stratifikasi laboratorium. Apakah laboratorium itu adalah laboratorium di Rumah Sakit tipe A, B atau C. Jika laboratorium swasta, apakah laboratorium yang akan dibangun adalah laboratorium pratama atau utama.
  • Jenis pelayanan. Apakah akan melayani seluruh bidang atau disiplin ilmu, atau hanya beberapa bidang saja yang akan dilayanani.
  • Sasaran pelanggan : siapa yang ingin dilayani? Apakah seluruh lapisan masyarakat, hanya untuk check-up, hanya untuk penelitian, dsb.
  • Target jumlah pemeriksaan dan jumlah peralatan yang digunakan. Jika seluruh bidang pelayanan yang akan dipilih, maka jumlah pemeriksaan yang akan dikerjakan juga banyak, demikian juga dengan jumlah peralatan yang akan digunakan.

Dengan mempertimbangkan faktor-faktor tersebut selanjutnya dapat dibuat perencanaan SDM, seperti jenis atau kualifikasi ketenagaan, kompetensi, jumlah yang dibutuhkan, rekruitmen, dsb.

Ada beberapa metode yang dapat digunakan dalam peramalan akan kebutuhan SDM, salah satu di antaranya adalah dengan menggunakan analisis beban kerja. Cara menghitung kebutuhan SDM laboratorium berdasarkan beban kerja akan saya sampaikan pada tulisan berikutnya.

 

Baca Juga:

Apa Laboratorium kesehatan itu? | Pengertian Laboratorium Kesehatan

Laboratorium kesehatan merupakan sarana penunjang upaya pelayanan kesahatan, khususnya bagi kepentingan preventif dan curative, bahkan promotif dan rehabilitative.

Sedangkan kalo Laboratorium Kesehatan itu sendiri adalah tempat memeriksa, menganalisa, menguraikan, mengidentifikasi material-material (baik yang berasal dari manusia dan atau lingkungan), secara kualitatif maupun kuantitatif.

Agar kita tidak salah kaprah tentang pengertian laboratorium tersebut!. Maka perlu kita mengetahui Jenis-jenis laboratorium Kesehatan, yang meliputi?

Laboratorium yang bertindak dalam kegiatan diagnose , contohnya :

  1. Penunjang Curatif

  • Lab. Klinik di rumah Sakit, Balai Pengobatan, Rumah Bersalin dan tempat Praktek Dokter

  1. Penunjang Curatif dan preventif

  • Balai Laboratorium Kesehatan (BLK), Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) dan Laboratorium Kesehatan Swasta (LKS).

  1. Penunjang preventif

  • Balai Teknik Kesehatan Lingkungan (BTKL).

  • Ada juga laboratorium yang bertindak dalam kegiatan pemeriksaan dan pengawasan :

  1. BPOM (Badan Pemeriksaan Obat dan Makanan)

  2. PPOM (Pusat Pemeriksaan Obat dan Makanan)

  • Terakhir, laboratorium yang bertindak dalam kegiatan penelitian

  1. Pusat Penelitian Penyakit Menular (P3M)

  2. Pusat Penelitian dan Pengembangan Farmasi (P3F)

Untuk laboratorium Kesehatan Swasta terdiri atas ;

  • Laboratorium Klinik Umum (pratama dan utama)

  • Laboratorium Klinik Khusus (Mikrobiologi dan Patologi Anatomi)

  • Laboratorium Kesehatan Masyarakat (Pratama dan Utama)

Nah untuk Laboratorium Klinik umum keberadaannya sudah tersebar sampai ke tingkat kecamatan, sedangkan yang lainnya masih terbatas.

Siapa aja yang bekerja dalam suatu Laboratorium?

Berdasarkan PermenKes RI No.514/Menkes/Per/VI/1994, tentang Laboratorium Kesehatan Swasta, ketenagaan minimal dalam sautu laboratorium diatur sbb :

Laboratorium Klinik Umum :

Pratama :

  • Penanggung Jawab : Sarjana Kedokteran/Sarjana Kedokteran Gigi/ Sarjana Farmasi/Sarjana Biologi/ sarjana Biokimia (1 orang)
  • Tenaga Teknis : Analis Keseahtan (2 orang) dan Perawat Kesehatan (1 orang)

Utama :

  • Penanggung Jawab : Dokter spesialis Patologi Klinik (1 Orang)

  • Tenaga Teknis : Sarjana Kedokteran/sarjana Farmasi/Sarjana Biokomia (1 orang), Analis Kesehatan (3 orang) dan Perawat Kesahatan (1 orang).

Laboratorium Kesehatan Masyarakat :

Pratama :

  • Penanggung Jawab : Sarjana Kedokteran/Sarjana Farmasi/Sarjana Biologi/sarjana Kimia/ sarjana Biokimia (1 orang)

  • Tenaga Teknis : Analis Keseahtan (2 orang) atau salah satu bisa diganti dengan satu orang asisten apoteker/Analis Kimia.

Utama :

  • Penanggung Jawab : : Sarjana Kedokteran/Sarjana Farmasi/sarjana Biologi/sarjana Kimia/ sarjana Biokimia (1 orang)

  • Tenaga Teknis : Analis Kesehatan (3 orang) dan Perawat Kesahatan (1 orang) atau salah satu bisa diganti dengan satu orang asisten apoteker/Analis Kimia.

Laboratorium Khusus Mikrobiologi :

  • Penanggung Jawab : Dokter spesialis Mikrobiologi Klinik (1 orang)

  • Tenaga Teknis : Sarjana Kedokteran/sarjana Biologi (1 orang), Tenaga teknis yang ahli di bidang Mikrobiologi (1 orang), Analis Keseahtan (1 orang) dan Perawat Kesehatan (1 orang)

Laboratorium Klinik Khusus Patologi Anatomi :

  • Penanggung Jawab : Dokter spesialis Patologi Anatomi (1 orang)

  • Tenaga Teknis : Sarjana Kedokteran/sarjana Biologi (1 orang) dapat dirangkap oleh Dokter Spesialis Patologi Anatomi/Penanggung jawab teknis, dan tenaga teknis yang terlatih di bidang Laboratorium Patologi Anatomi.

Sekarang apa saja pemeriksaan yang dapat dilakukan oleh laboratorium-laboratorium tersebut, dibawah ini kemampuan minimal yang di persyaratkan untuk laboratorium yang berdasarkan kepada alat yang di gunakan sekaligus kemungkinan pencemaran/ limbah yang di akibatkannya. Ukuaran ini tentu saja dapat di lengkapi dengan kegiatan serta volume pemeriksaan laboratorium tersebut.

Laboratorium Klinik Umum :

  • Hematologi

  • Hemostasis

  • Urinalisa

  • Tinja

  • Kimia Klinik

  • Immunologi

  • Mikrobiologi

Laboratorium Kesehatan Masyarakat :

  • Kimia Lingkungan

  • Pemeriksaan Jasaboga

Laboratorium Khusus Mikrobiologi :

  • Mikrobiologi Klinik

Laboratorium Klinik Khusus Patologi Anatomi :

  • Histopatologi

  • Sitopatologi

  • Histokimia

  • Imminopatologi

  • Patologi Molekuler

Berbicara kesehatan, maka setiap laboratorium harus mempunyai sarana pengolahan limbah masing-masing dan kebutuhannya disesuaikan dengan laboratoriumnya. Karena pada umumnya limbah laboratorium kesehatan tidak terlalu banyak karena itu limbah laboratorium di lakukan secara sederhana saja, misalnya :

  • Limbah non-klinik : dibakar/ditimbun

  • Limbah Klinik padat : dibakar/ditimbun

  • Limbah Klinik cair : di endapkan dengan pembubuhan desinfektan dan kaporit.

Limbah dapat diartikan sebagai materi yang dihasilkan dari proses suatu kegiatan, yang tidak memberikan aspek ekonomi dan harus dibuang. sehingga untuk penambahan serta penjelasan penanganan dan pengolahan suatu limbah pada laboratorium kesehatan, di bawah ini tempat yang harus dibuat oleh setiap laboratorium untuk suatu limbah padat maupun cair dimana kebutuhan tergantung suatu laboratorium, meliputi :

  1. Tempat penampungan/pengolahan (sederhana) limbah cair.
  • Terbuat dari tembok, dibangun terpisah/terisolir.

  • Ukuran tergantung dari keperluan, disesuaikan dengan volume limbah cair yang dihasilkan oleh laboratorium tersebut dalam sehari, seminggu atau sebulan.

  • Bak penampung bisa lebih dari satu buah. Kesemuanya harus tertutup.

  • Cairan yang telah jernih (dengan system pengendapan dan pembubuhan desinfektan) dapat dialirkan ke perairan umum.

  1. Tempat penampungan/pengolahan (sederhana) limbah padat

  • Terbuat dari tembok (permanen) atau drum (non-permanen).

  • Harus memiliki alat penutup, untuk menghindari pemindahan bibit penyakit oleh lalat.
  • Penyediaan bak atau drum bisa lebih dari satu buah tergantung dari volume limbah padat yang dihasilkan oleh laboratorium tersebut, dalam sehari, seminggu atau sebulan. Begitu juga ukuran bak disesuaikan dengan keperluan.
  • Pembakaran limbah bisa dilakukan. Kalo bisa, diusahakan limbah yang dihasilkan perhari langsung dibakar hari itu juga jangan dibiarkan sampai terlalu banyak tertimbun.
  • Pisahkan penampungan limbah medic padat dengan limbah non medic padat.

  • Penanganan limbah padat ini bisa juga dengan cara di timbun, namun pada umumnya ini dihindari karena bisa mengundang masalah baru di kemudian hari.

  • Limbah medic padat jangan dibuang bahkan diharamkan dibuang ke tempat pembuangan sampah umum, karena hal demikian sama dengan memindahkan bibit penyakit.

Nah, supaya tubuh kita tetap terjaga kesehatannya berarti kita harus melakukan pemeriksaan laboratorium (cek up) secara rutin sesuai pada tempatnya. Jika kita termasuk orang yang senang dengan kegiatan laboratorium harus di waspadai tentang penyakit akibat kerja.

Penyakit akibat kerja, apa-an tuh?

Penyakit akibat kerja yaitu penyakit yang timbul sewaktu atau setelah bekerja bisa juga di artikan sebagai penyakit yang diakibatkan lingkungan kerja, dimana lingkungan kerja itu situasi dan kindisinya tidak memadai.

Ada faktor-faktor lingkungan kerja yang dapat menjadi penyebab bagi timbulnya penyakit akibat kerja, yaitu meliputi factor fisik, factor kimia, factor biologi, factor fisiologik dan factor psikologik.

Jadi, jika kita akan melakukan pemeriksaan klinik, ya anda harus tau bagaimana laboratorium klinik tersebut. Lain lagi jika laboratorim untuk menguji mutu makanan dan minuman.

Demikain catatan ringkas ini saya sajikan mudah-mudahan saja dapat menambah wawasan tentang laboratorium kesehatan.

Karena jika kita sakit maka yang memeriksa kita adalah analis kesehatan dari laboratorium klinik tersebut, dimulai dari pengambilan sampel dan pemeriksaannya.

Dikutip Dari Sumber

Sertifikasi dan Kompetensi Analis Kesehatan

Sertifikasi dan Kompetensi Analis Kesehatan Berdasarkan Permenkes No. 161 Tahun 2010

Oleh : Entuy Kurniawan

Dewan Pimpinan Pusat Persatuan Ahli Teknologi Laboratorium Kesehatan Indonesia

 

 

Profesi kesehatan adalah pekerjaan yang memenuhi kriteria:

  • Mempunyai pendidikan formal untukmemperoleh pengetahuan, sikapdan keterampilan (Kompetensi)
  • Diberikan kewenangan untuk melaksanakan pelayanan kepada klien maupun tenaga kesehatan lain
  • Melaksanakan pelayanan melalui kode etik dan standar pelayanan yang diakui masyarakat

Mengapa perlu sertifikasi profesi :

  • Pengakuan Profesi
  • Penghargaan Profesi
  • Perlindungan Hukum
  • Standardisasi kompetensi
  • Daya saing tinggi

Sertifikasi Kompetensi :

  • Suatu proses pengakuan terhadap kompetensi seorang Analis Kesehatan untuk menjalankan praktik dan/atau pekerjaan profesinya sesuai dengan standar profesi di seluruh Indonesia
  • Sebagai syarat mendapatkan surat tanda registrasi (STR) dan surat izin kerja (SIK)

Dasar Hukum :

  • UU No. 36 Tahun 2009
    Penyelenggara fasilitas kesehatan dilarang mempekerjakan tenaga kesehatan yang tidak memiliki kualifikasi dan izinmelakukan pekerjaan profesi (Pasal 34 : 2)
  • PP No. 32 Tahun 1996
    Tenaga kesehatan hanya dapat melakukan upaya kesehatan setelah memiliki izin dari menteri kesehatan (Pasal 4)

PenyelenggaraUji Kompetensi Analis Kesehatan

  • Majelis Tenaga Kesehatan Provinsi (MTKP)
    • Sertifikasi Profesi (Mandatory)
    • Registrasi dan Izin Kerja
  • LembagaSertifikasiProfesiTenagaLaboratoriumPengujiIndonesia(LSPTELAPI):
    • Kompetensi Kerja (Voluntary)
    • Sesuai dengan bidang/level pekerjaannya

 

PESERTA UJI :

  • Umum (Administrasi)
    • Foto copi ijazah yang dilegalisir
    • Surat keterangan sehat dari dokter yang memiliki SIP
    • Surat pernyataan akan mematuhi etika profesi
    • Pas Photo terbaru dan berwarna 4×6 sebanyak 3 buah
  • Khusus
    • Anggota PATELKI (KTA)
    • Lulusan pendidikan formal dengan jenjang pendidikan :
      • Diploma III/IV Analis Kesehatan/Medis
      • SMAK dengan pengalamankerja di laboratorium minimal 5 tahun

Re-Registrasi (uji kompetensi ulang)

  • Pas foto terbaru dan berwarna ukuran 4 X 6 sebanyak 3 (tiga) lembar
  • SuratIjinKerja Analis Kesehatan
  • telah mengikuti kegiatan ilmiah PATELKI dengan mengumpulkan minimal 5 SKP

PENGUJI KOMPETENSI

  • Penguji menjalankan profesinya sesuai dengan standar profesi
  • Berasal dari PATELKI dandirekomendasikan oleh   DPP PATELKI
  • Mempunyai latar belakang pendidikan Analis Kesehatan
  • Berpendidikan satu tingkat diatas atau sejajar dengan tenaga analis kesehatan yang diuji
  • Pengalaman dibidang labkes minimal 5 tahun untuk berpendidikan satu tingkat diatas atau 10 tahun untuk berpendidikan sejajar dengan peserta uji
  • Memiliki sertifikat kompetensi teknis yang sesuai dengan bidang yang akan diujikan atau dokumen pendukung lainnya
  • Memiliki sertifikat penguji dari MTKI atas nama Menteri
  • Memiliki surat penunjukkan dari MTKP
  • Tidakmemilikikonflik kepentingan

MATERI UJI KOMPETENSI :

  • Mengacu pada STANDAR PROFESI, berdasarkan Kepmenkes No. 370/Menkes/SK/III/2007
  • Terdiri dari tiga aspek :
    • Kompetensi Teknis Profesional
    • Kompetensi Manajemen Profesional
    • Kompetensi Etik Profesional
  • DOMAIN  :
    • Kognitif (30-50%), Afektif Knowledge (Konatif) (10-20%), Prosedural knowledge (20-30%)
    • Psikomotorik (40-60%)

 

Standar kompetensi : 7 kompetensi inti, dan terdiri dari 51 unit kompetensi

KOMPETENSI

  • Kompetensi Teknis Profesional :
    • Merencanakan / merancang proses di laboratorium kesehatan
    • Keterampilan untuk melaksanakan proses pemeriksaan laboratorium
    • Mampu memberikan penilaian analitis terhadap hasil pemeriksaan laboratorium
    • Mampu melaksanakan dan mengevaluasi sistem mutu di laboratorium
    • Memiliki kewaspadaan terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi hasil pemeriksaan laboratorium
  • Kompetensi Manajemen Profesional
    • Membantu klinisi dalam pemanfaatan data laboratorium secara efektif dan efisien
    • Merencanakan, mengatur, melaksanakan dan mengevaluasi kegiatan laboratorium
  • Kompetensi Etik Profesional ?

Sub Kompetensi

  • Keterampilan untuk melaksanakan proses pemeriksaan laboratorium
    • Pengambilan spesimen
    • Penanganan spesimen
    • Mempersiapkan alat dan bahan
    • Menguji kualitas bahan/reagensia
    • Penanganan (memelihara dan kalibrasi) alat
    • Memilih metode uji
    • Mengerjakan prosedur pemeriksaan :
      • Hematologi
    • ……. membuat laporan hasil pemeriksaan

UNIT KOMPETENSI

  • Memilih metode uji (LAB.KK02.021.01)
  • Melakukan tes dasar (LAB.KK02.014.01)
  • Hematologi sederhana
  • Kimia klinik sederhana
  • Mikrobiologi sederhana
  • Urin rutin
  • Faeces rutin

Contoh Soal

  • Hematologi Dasar
  • Mampu melakukan identifikasi sel darah
  • Kasus : pada kasus infeksi parasit yang disebabkan oleh cacing Ascaris lumbricoides, tubuh menunjukan respon imunitas yang ditunjukan dengan adanya peningkatan/perubahan proporsi leukosit. Hal ini dapat terlihat pada pemeriksaan diff count yang menunjukkan peningkatan pada sel :

 

 

 

 

 

 

 

 

Sumber :

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: