DETEKSI DINI PENYAKIT GINJAL KRONIS DENGAN CYSTATIN C

DETEKSI DINI PENYAKIT GINJAL KRONIS DENGAN CYSTATIN C

Mengapa perlu deteksi dini penyakit ginjal kronis?

Insiden penyakit ginjal kronis cukup tinggi di Indonesia, prognosis penyakitnya buruk dan membutuhkan biaya pengobatan yang sangat besar. Penyakit ginjal kronis sering baru terdeteksi pada stadium lanjut karena pada stadium dini umumnya tidak menunjukkan gejala yang spesifik, meskipun fungsi ginjal sudah mengalami penurunan.

Siapa yang berisiko menderita penyakit ginjal kronis?

Semua golongan usia berisiko menderita penyakit ginjal kronis. Penderita diabetes melitus, hipertensi, jantung, dislipidemia, sindroma metabolik, memiliki riwayat sumbatan saluran kemih, infeksi saluran kemih dan memiliki riwayat anggota keluarga yang menderita penyakit ginjal sangat berisiko menderita penyakit ginjal kronis.

Bagaimana mendeteksi penyakit ginjal kronis?

Deteksi dini penyakit ginjal kronis dapat dilakukan melalui pemeriksaan laboratorium, salah satunya adalah pemeriksaan Cystatin C. Kadar Cystatin C dalam darah memperkirakan laju filtrasi glomerulus ginjal untuk menentukan fungsi ginjal. Peningkatan Cystatin C menunjukkan adanya penurunan fungsi ginjal. Kriteria penyakit ginjal kronis National Kidney Foundation (NKF) Kidney Disease Outcome Quality Initiative (K/DOQI) adalah kerusakan ginjal lebih dari tiga bulan yang diketahui melalui pemeriksaan petanda kerusakan ginjal (misalnya proteinuria, hematuria) dan/atau laju filtrasi glomerulus ginjal < 60 ml/menit/1,73m2.

Apakah Cystatin C itu?

Cystatin C adalah suatu protein spesifik berukuran kecil yang disekresi oleh semua sel berinti. Cystatin C dikeluarkan hanya melalui urine, difiltrasi bebas oleh glomerulus ginjal, tidak disekresi oleh tubulus ginjal dan tidak diserap kembali ke dalam tubuh, sehingga sangat baik untuk menentukan laju filtrasi glomerulus ginjal. Sekresi Cystatin C selalu konstan dalam darah, sehingga apabila terjadi peningkatan maka menunjukkan adanya gangguan filtrasi ginjal maupun fungsi ginjal.

Mengapa Cystatin C lebih unggul dari kreatinin untuk menilai fungsi ginjal?

Publikasi penelitian klinis penyakit ginjal menyebutkan bahwa Cystatin C sudah menunjukkan peningkatan pada stadium dini penyakit ginjal kronis, sedangkan kreatinin baru akan meningkat pada stadium menengah. Berbeda dengan kreatinin, Cystatin C tidak dipengaruhi oleh usia, massa otot, jenis kelamin, ras dan diet makanan.

Bagaimana menentukan laju filtrasi glomerulus ginjal dengan Cystatin C?

Banyak penelitian terhadap Cystatin C yang telah menghasilkan rumus perhitungan untuk menentukan laju filtrasi glomerulus ginjal. Selain itu, dapat juga menggunakan Normogram dengan menyesuaikan skala nilai kadar Cystatin C dan laju filtrasi glomerulus ginjal.

Siapa yang perlu melakukan pemeriksaan Cystatin C?

Pemeriksaan Cystatin C tidak terbatas bagi orang yang mempunyai faktor risiko penyakit ginjal kronis yang telah disebutkan di atas, namun perlu bagi orang yang hasil pemeriksaan urinenya abnormal dan check-up.

Kapan dilakukan pemeriksaan Cystatin C?

Pemeriksaan Cystatin C dapat dilakukan setiap saat tanpa persiapan khusus maupun puasa. Pemeriksaan Cystatin C menggunakan spesimen darah. Parahita Diagnostic Centre melayani pemeriksaan Cystatin C setiap hari kerja pada semua cabang.

Berapa kadar normal Cystatin C?

Kadar normal Cystatin C adalah 0,5-1,03 mg/l. Sebagai contoh, apabila kadar Cystatin C 0,9 mg/l maka setara dengan laju filtrasi glomerulus 93 ml/menit/1,73m2, yang merupakan nilai normal laju filtrasi glomerulus ginjal. Cystatin C 1,5 mg/l setara dengan laju filtrasi glomerulus ginjal 45 ml/menit/1,73m2, yang menunjukkan penurunan laju filtrasi glomerulus ginjal.

Apa yang harus dilakukan apabila kadar Cystatin C tidak normal?

Segera konsultasi pada dokter keluarga maupun dokter spesialis penyakit dalam dan melakukan pemeriksaan tambahan sesuai dengan petunjuk dokter. Pengobatan dini mengurangi kerusakan ginjal yang lebih lanjut.

Silakan hubungi Parahita Diagnostic Centre untuk mendapatkan informasi mengenai masalah kesehatan dan pemeriksaan diagnostik.

Referensi:
  1. Cepeda J. et al. Cystatin C and Cardiovascular Risk in the General Population. Rev Esp Cardiol. 2010;63(4):415-22.
  2. Burtis C.A. et al. Tietz Fundamentals of Clinical Chemistry 6th Edition. Elsevier Inc., 2008. Hal.639-641.
  3. National Kidney Foundation. K/DOQI Clinical Practice Guidelines for Chronic Kidney Disease: Evaluation, Classification and Stratification. National Kidney Foundation Inc., 2002.

Written by dr.Jo

About these ads
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: